.

Kurang Tidur Beresiko Stroke

12 Jun 2012

Jika anda tidur kurang dari 6 jam dalam 24 jam, maka akan meningkatkan resiko terjadinya stroke. Memang ini bukan hal yang baru, karena sejak lama kurang tidur menjadi faktor resiko terjadinya stroke terutama pada usia resiko terkena stroke, yaitu usia di atas 45 tahun ke atas. Usia yang rawan dan menjadi resiko terjadinya stroke.

Para peneliti menemukan lebih lanjut, walaupun tubuh anda sehat dan tidak ada riwayat stroke dalam keluarganya, akan tetap beresiko terkena stroke jika anda tidur kurang dari 6 jam secara kronis atau teratur. Ini memang bukan berita yang baik bagi pengemar sepakbola eropa di Indonesia. Yang sering mengabaikan waktu tidur demi melihat tim kesayangan berlaga.

A. Kurang Tidur memang Beresiko terkena Stroke.

Penelitian ini dilakukan ilmuwan dari universitas Alabama, dengan obyek penelitian pria dan wanita usia 45 tahun keatas sebanyak 5000 orang. Mereka dipantau selama tiga tahun, mereka yang tidur kurang dari 6 jam paling mungkin mengalami gejala seperti kesemutan, mati-rasa atau kelemahan di satu sisi tubuhnya. Serta adanya pusing, kehilangan kemampuan melihat, atau ketidakmampuan mengekspresikan diri baik secara verbal maupun tertulis.

Para ilmuwan juga memperhitungkan faktor berat badan, usia dan resiko lain seperti tekanan darah tinggi. Para peserta dikelompokkan menjadi lima kelompok berdasarkan jumlah tidur mereka dalam semalam. Mereka juga diminta melaporkan tiap enam bulan gejala yang mereka alami.

Dan hasilnya ternyata hampir sama dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh universitas Warwick. Bahkan mereka menemukan kurang tidur beresiko peningkatan terjadinya stroke dan penyakit jantung. Namun penelitian yang terbaru ini lebih fokus pada gejala awal stroke, yang sering diabaikan oleh mereka.

B. Faktor resiko terjadinya stroke yang harus diwaspadai:

Umur
Semakin usia bertambah, maka resiko terjadinya stroke akan bertambah. Terutama golongan usia 45 tahun keatas, bahkan ada yang menyarankan agar mulai berhati-hati pada usia 35 tahun.

Jenis kelamin
Ancaman stroke lebih besar pada wanita, mengingat semakin tingginya harapan hidup pada wanita.

Riwayat keluarga
Walau stroke bukanlah penyakit keturunan, tapi riwayat adanya keluarga yang pernah terkena stroke, bisa meningkatkan resiko. Mungkin karena gaya hidup, pengaruh lingkungan dan pola makan yang sama.

Hipertensi
Atau tekanan darah tinggi merupakan faktor resiko utama terjadinya stroke, harus ada usaha untuk mengobati tekanan darah tinggi dan mengontrol faktor yang menyebabkan tekanan darah tinggi.

Diabetes
Atau kencing manis lebih menyebabkan peningkatan faktor resiko pada stroke, karena adanya kemungkinan aterosklerosis dan kemungkinan peningkatan faktor resiko lainnya seperti: hipertensi, obesitas dan hiperlipidemia. Penelitian mengatakan bahwa pengontrolan tekanan darah pada kencing manis lebih efektif menurunkan resiko stroke dibanding pengontrolan gula darah. Pengontrolan gula darah lebih berguna untuk menghindari komplikasi mikrovaskular.

Obesitas
kegemukan merupakan faktor utama beberapa penyakit kardiovaskular dan stroke. Kemungkinanannya menjadi lebih tinggi seiring dengan peningkatan usia, dan kegemukan berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, gula darah dan lemak.

In-aktifitas fisik
Tidak adanya aktifitas fisik yang rutin, bisa menambah resiko faktor resiko terjadinya penyakit kardiovaskular dan stroke. Beberapa penelitian menganjurkan adanya minimal 30 menit latihan fisik yang memacu jantung, seperti bersepeda, berlari, aerobik ataupun jogging. Sehingga bisa mengurangi faktor resiko terjadinya stroke.

Pola makan/nutrisi
Beberapa zat bergizi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran bermanfaat mencegah terjadinya stroke. Terutama mengkonsumsi makanan yang menurunkan LDL cholesterol terbukti mengurangi faktor resiko stroke. Intinya pola makan yang sehat.

Merokok
Memang meningkatkan faktor resiko terjadinya stroke, terutama nikotin yang membantu penyempitan dan pengerasan pembuluh darah.

Alkohol/penyalahgunaan obat-obatan
Penggunaan alkohol dan narkoba bisa memicu terjadinya stroke, walau masih diragukan seberapa besar pengaruh alkohol jika dikonsumsi secara moderat. Namun menghindarinya jauh lebih baik mengingat banyaknya faktor resiko yang mungkin ada.

Mencegah stroke lebih baik dari mengobati stroke, mengingat dampak dari penyakit stroke yaitu kelumpuhan, kecacatan bahkan kematian.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
logo
Copyright © 2013. Infotipso - All Rights Reserved