.

Melatih Anak Disiplin

4 Sep 2013

Mungkin bukan untuk menjadi militer atau tentara dalam melatih anak disiplin, namun demi perkembangan mental dan masa depannya. Anak memang cenderung bermain dan mencari kesenangan di dunianya, mereka sering lupa akan kewajibannya sehari hari. Seperti belajar, makan, pulang tepat waktu adalah sekian hal yang bisa jadi perhatian.

Bisa jadi anak yang dibiarkan bebas tidak akan pernah dewasa dan kekanak-kanakan, karena mereka tidak akan pernah bertanggung-jawab baik bagi diri sendiri maupun keluarganya. Melatih anak disiplin sejak awal bisa menjadi jaan dalam membentuk karakter anak yang bertanggung-jawab. Namun bukan untuk tujuan agar dia nantinya jadi tentara, masa depan adalah di tangannya, mereka yang menentukan, bunda hanya membantu anak tumbuh mandiri, bertanggung-jawab dan berguna bagi keluarga.

Memang melatih disiplin bisa dari keluarga, tempat dimana awal dari sebuah komunitas kecil sebelum anak beranjak ke sekolah. Di keluarga anak dilatih akan kewajibannya untuk belajar mengenal waktu, baik saatnya tidur, makan, mandi, bermain, yang sudah harus ditata sebagai normal standar di keluarga. Memang hal sepele, namun akan membangun kesadaran anak akan fungsi dan perannya dalam keluarga.

Memang bukan hal mudah, karena anak cenderung bermain sehingga akan ada teriakan, bentakan, dari bunda. Namun harusnya bunda juga harus bisa mengendalikan diri, beberapa penelitian melihat teriakan, bentakan, makian hanya membuat anak berperangai buruk. Justru dengan pembicaraan terbuka antara bunda dan anak akan menjadi jalan kompromi yang tepat. Memang tidak mudah bila sang buah hati juga bermotif emosional, bisa jadi perang bintang bila dituruti.

Melatih anak disipin sejak dini

Kebiasaan disiplin sudah bisa diterapkan sejak dini, sejak anak mulai mengenal kamar mandi. Kebiasaan buang air kecil sebelum tidur bisa jadi rangkaian awal sebuah pelatihan disiplin. Kebiasaan baik sejak awal yang dibina secara teratur bisa menjadi bekal bagi komunikasi yang baik antara bunda dan buah hati.

Meskipun sebenarnya problem komunikasi lebih banyak di bunda, biasanya anak hanya mengikuti norma yang dibuat oleh bunda. Namun biasanya bunda sendiri yang kesulitan mengkomunikasikan dengan buah hatinya. Sekali lagi jangan emosi terhadap anak, karena ini awal dari kerusakan komunikasi.

Membangun komunikasi dua arah

Tidak selamanya anak dalam masalah dalam pelatihan sebuah disiplin, justru orang tua yang sering merusak aturan atau norma. Bunda sering lupa melakukan hal yang tidak boleh dilakukan oleh ananda, padahal buah hati hanya akan meniru dan menaati apa yang bunda lakukan. Bisa jadi akan ada kebingungan hingga komunikasi menjadi buyar dan tidak berjalan.

Biasanya emosi yang tinggi adalah awal dari rangkaian kerusakan, sekali lagi buat bunda jangan emosi. Meskipun ini sebuah hukuman bagi buah hati, tetap lakukan dengan cara dingin. Jangan naikan suara untuk alasan yang tidak penting, bila dia hanya lupa ke kamar mandi, jangan bentak atau teriak, biarkan berlalu toh akan ada reward saat dial alai dari kebiasaan. Ini sebenarnya akan disesali oleh buah hati bila dia melewatkan apa yang menjadi norma di keluarga.

Beri buah hati pelukan

Kebanyakan disiplin sulit dibangun bila tidak ada kasih sayang dalam keluarga, ini keluarga bukannya sebuah institusi militer. Anak akan melakukan apapun demi bundanya, namun akan sangat tertekan bila ada kata-kata maupun pukulan yang akan menyakiti hatinya. Memang terlihat sepele tapi bermakna besar bagi buah hati.

Kebanyakan awal dari ketidakpercayaan karena ada yang tersakiti, biasanya akan sulit menyembuhkan trauma yang berkepanjangan. Jadi jangan biasakan sebuah kekerasan untuk mendisiplinkan anak. Meskipun mereka kadang sangat keras, namun mereka tetap anak-anak akan membutuhkan banyak hal untuk pertumbuhannya. Mereka memang kan melewati hal-hal yang mungkin tidak pernah bunda alami sebelumnya.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
logo
Copyright © 2013. Infotipso - All Rights Reserved