Sebenarnya mobil LCGC memang ditujukan untuk mengurangi konsumsi BBM subsidi, apapun bentuknya. Namun dalam perjalanannya tidak ada aturan yang jelas dalam mengatur hal ini. Tidak ada aturan yang melarang secara eksplisit penggunaan BBM subsidi oleh mobil LCGC.
Aturannya memang bisa multitafsir, mobil yang irit dan ramah ligkungan ini bisa ditafsirkan lebih irit pemakaian bahan bakarnya. Jadi masih boleh pakai bensin premium subsidi tapi lebih irit. Namun bisa juga tidak boleh pakai premium subsidi sama sekali, untuk mengurangi pemakaian BBM subsidi.
Aturan yang multitafsir ini juga bisa dilihat lain oleh pabrikan mobil LCGC. Ada yang masih pakai premium tapi lebih irit, tapi ada juga yang melarang pakai premium dengan resiko garansi servis bisa hilang. Kondisi ini memang membuka adanya banyak alternative dalam menbuat mobil yang irit bahan bakar.
Memang dari CC mesin yang kecil, jelas akan lebih irit pemakaian bahan bakar. Namun bila kembali ke komponen pembakaran di mobil LCGC, bisa saja mudah rusak dengan penggunaan premium dan harus pakai premium di atasnya. Kendala ini dilihat banyak ambivalennya.
Ada pabrikan yang merubah setingan mobil dengan komponen yang bisa pakai premium. Inipun dilakukan sebelum mobil LCGC rilis ke konsumen, yang artinya pihak pabrikan sendiri yang menentukan konsumsi BBM subsidi ini. Masalahnya bila memaksa pakai BBM diatas premium bisa jadi mobil LCGC tidak akan laku.
Memang rata-rata pembeli mobil LCGC adalah kelas menengah ke bawah, andai ada kelas atas juga untuk mobil operasional bukan untuk pribadi. Jadi pemikiran ekonomis mendasarinya, sehingga jelas sulit menghindarkan dari konsumsi BBM subsidi. Hal lain juga mengundang dilemma, lha wong mobil di atasnya juga pada pakai premium subsidi, kok mobil lebih murah gak boleh pakai BBM subsidi.
Kendala ini memang bisa juga membuat peluang, aturan untuk mengurangi konsumsi BBM subsidi bisa membuat pabrikan lebih kreatif dalam membuat mobil yang lebih irit. Harusnya juga sih ada tolok ukur yang pasti atau terukur, misal perliternya mobil LCGC ini harusnya bisa menempuh 25 kilometer. Bila tidak mampu menempuh ini maka akan gagal mendapatkan insentif dalam produksinya.
Namun aturan ini juga bisa mengundang kompetisi dari mobil diatasnya, bisa jadi dengan teknologi yang berkembang semua mobil akan lebih irit dan masuk kategori LCGC. Hal ini bisa dimungkinkan, meskipun dengan CC mesin yang lebih besar kemungkinan 25 kilometer perliternya akan semakin sulit. Namun inipun bisa dilakukan oleh mobil hybrid, tentunya bisa menimbulkan hal lain dari aturan yang ada.
Pada hakekatnya mobil LCGC ada positifnya dari sisi ekonomis dan pengembangan teknologi mobil yang irit bahan bakar. Dilema masalah boleh tidaknya konsumsi BBM subsidi harusnya tidak membunuh pengembangan sebuah mobil yang irit dan ramah lingkungan. Arahnya sudah tepat, hanya perlu pemberian kondisi yang kondusif.